It's been an emotional week for me and sometimes I reached a point where I couldn't handle it anymore. I cried a lot, like a lot. Many things happened this week and I couldn't do anything but stay still.
I did a great work for my job, I reached more than just a target, but it seems my boss didn't appreciate it at all. Moveover she even mocked me for being..... me. She told me to not be creative. It's like what the f?
It's went on all days straight and I even got stress out.
Forget about the works and stuff, I got myself a mental crushed thanks to certain people. Well, who needs heart anyway? You can be all mean and underestimate other's feelings. I think it's been an unfair week for me.
Showing posts with label work days. Show all posts
Showing posts with label work days. Show all posts
Sunday, November 9, 2014
Saturday, October 25, 2014
Ultimate Bad Day
So....
It's been a rough day. I was having maybe the bad day ever this year.
Gue pikir nggak akan pernah gue nangis tahun ini, karena gue ngerasa fine-fine aja. Gue suka hidup gue. Keluarga gue masih lengkap, sehat, kenyang. Temen-temen gue semuanya sayang sama gue. Gue single, tapi gue lebih banyak senengnya daripada sedihnya. Keuangan gue baik. Kesehatan gue stabil.
I thought I was fine.
Siang ini karena suatu hal yang (sebenarnya) udah gue tumpuk berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan tanpa bisa gue ceritain sama orang lain (well because there's no one to share) akhirnya meledak dalam waktu 15 menit. Selama ini gue bertahan di maki-maki, di marahin tanpa alasan... cuma karena sebaris kalimat di KTP gue, rupanya itu yang bikin gue beda dan akhirnya perlakuan ke gue pun juga beda.
15 menit.
Di rendahkan di depan banyak orang, bagaikan di tampar sana sini. Dipermalukan. Dihina.
Gue bisa cerita ke siapa? Temen-temen gue pada jauh tinggalnya. Keluarga gue... nggak banyak membantu, karena kami pun lagi sibuk sama bokap. Temen-temen kantor? Jangan ditanya.
Padahal gue lebih banyak memainkan peran "tempat sampah" belakangan ini. Atau kadang "orang serba bisa". Tergantung temen/keluarga gue ini perlunya apa. Gue lebih banyak mendengarkan dan menghibur. Tapi disaat gue kayak begini, mereka kemana? Asyik dengan masalah mereka yang sudah terselesaikan.
Gue cuma bisa ambil tissue, permisi ke toilet sebentar, nyalain keran, dan nangis sepuasnya. Gue pake kacamata gue seharian untuk nutupin mata gue yang kayak bola bekel, bengkak parah. Gue harus bisa menghadapi ini. Harus bisa.
Sendiri.
It's been a rough day. I was having maybe the bad day ever this year.
Gue pikir nggak akan pernah gue nangis tahun ini, karena gue ngerasa fine-fine aja. Gue suka hidup gue. Keluarga gue masih lengkap, sehat, kenyang. Temen-temen gue semuanya sayang sama gue. Gue single, tapi gue lebih banyak senengnya daripada sedihnya. Keuangan gue baik. Kesehatan gue stabil.
I thought I was fine.
Siang ini karena suatu hal yang (sebenarnya) udah gue tumpuk berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan tanpa bisa gue ceritain sama orang lain (well because there's no one to share) akhirnya meledak dalam waktu 15 menit. Selama ini gue bertahan di maki-maki, di marahin tanpa alasan... cuma karena sebaris kalimat di KTP gue, rupanya itu yang bikin gue beda dan akhirnya perlakuan ke gue pun juga beda.
15 menit.
Di rendahkan di depan banyak orang, bagaikan di tampar sana sini. Dipermalukan. Dihina.
Gue bisa cerita ke siapa? Temen-temen gue pada jauh tinggalnya. Keluarga gue... nggak banyak membantu, karena kami pun lagi sibuk sama bokap. Temen-temen kantor? Jangan ditanya.
Padahal gue lebih banyak memainkan peran "tempat sampah" belakangan ini. Atau kadang "orang serba bisa". Tergantung temen/keluarga gue ini perlunya apa. Gue lebih banyak mendengarkan dan menghibur. Tapi disaat gue kayak begini, mereka kemana? Asyik dengan masalah mereka yang sudah terselesaikan.
Gue cuma bisa ambil tissue, permisi ke toilet sebentar, nyalain keran, dan nangis sepuasnya. Gue pake kacamata gue seharian untuk nutupin mata gue yang kayak bola bekel, bengkak parah. Gue harus bisa menghadapi ini. Harus bisa.
Sendiri.
Thursday, September 25, 2014
Different Path
Hari ini gue dibuat berpikir sama temen kantor. Bukannya gue nggak pernah mikir... ini otak mau diapain kalo nggak dipake mikir? -_-"
Siang ini saat ruangan gue lagi agak sepi, gue iseng main ke ruangan temen dan ngobrol-ngobrol sebentar. Trust me, we can't do this when my boss is around. Kita ngomongin temen gue ini yang baru dapet kerjaan baru dan mau resign bulan November. Dia berpendapat kalo tempat kerjanya nanti gajinya lebih besar, tempatnya lebih deket dari kos-an (cuma 10 menit jalan kaki), dan tantangan baru karena job desk nya sama sekali beda sama kerjaannya dia yang sekarang.
"Masalahnya Deb, gue lebih nyaman di sini. Gue suka kerjaan gue. Kerjaan gue tuh asik. Apalagi temen-temen disini juga baik sama gue."
Asik?
Disini gue bertanya-tanya dimana asiknya? Sepanjang hari yang gue lihat dia mondar-mandir lantai satu sampe lantai tiga cuma buat ngecek persediaan barang, penjualan barang, dan gak jarang dia kena omel boss gara-gara sesuatu yang bukan salahnya. Gue yang nonton dia kerja aja capek, gimana dia yang ngejalanin?
Dalam hidup gue, nggak akan pernah terlintas untuk punya profesi kayak dia. Berhitung, menjual, negosiasi, ketelitian, lembur..... it's not my thing. Yang gue mau adalah gue bisa berekspresi semau gue... dan kebanyakan profesi yang berkaitan dengan otak kanan cocok sama gue.
"Kerjaan kamu dimana asiknya sih? Aku aja puyeng liatin kamu kerja..." Gue nyablak.
"Lho asik tauuu. Justru aku yang pusing liatin kamu kerja. Bikin box ini itu... gunting-gunting...motong-motong..desain ini desain itu..." jawabnya ngebela diri.
"Kerjaan aku nggak mikir, kerjaan kamu mikir. Hahaha..."
"Bisa-bisanya kamu bikin macem-macem itu tanpa mikir!" terus dia ketawa.
Bagi dia kerjaan gue itu super nggak banget. Bagi gue kerjaan dia itu.... ya perlu banget gue bahas lagi?
Tapi sebenarnya yang bikin gue mikir adalah kata-kata dia yang sebelumnya: Karena gue nyaman.
Kenyamanan kayaknya kunci dari segala hal bagi gue. Percuma lo kerja di tempat yang wow bagi orang lain, tapi lo nggak menikmati semenit pun waktu lo disana. Gue pernah sekali waktu liat post temen di Path: Rejeki nggak hanya datang dari besarnya gaji aja, tapi juga lokasi kantor, temen-temen kantor, nyamannya kantor, dan banyaknya makanan di sana. Seorang temen gue yang juga lulusan desain grafis akhirnya sekarang kerja jadi marketing promotion. Lho sayang banget ilmu desainnya? Ternyata dia lebih enjoy sama kerjaannya yang sekarang. Sesimpel itu.
Seorang cowok tulen nggak bisa dipaksa untuk pakai rok tutu polkadot pink. Ya, kita bisa paksa dia pakai rok itu tapi apa dia bakal pake itu selama 2 minggu? Sebulan? Setahun? Lo bisa paksa dia, tapi itu bukan nature nya. Bukan minatnya. Bukan kesukaannya. Otot-otot kekar di kakinya pasti nggak nyaman dibalik rok tutu pink. Nggak nyaman. Ngeri ya ngebayanginnya?
Sesimpel itu.
Siang ini saat ruangan gue lagi agak sepi, gue iseng main ke ruangan temen dan ngobrol-ngobrol sebentar. Trust me, we can't do this when my boss is around. Kita ngomongin temen gue ini yang baru dapet kerjaan baru dan mau resign bulan November. Dia berpendapat kalo tempat kerjanya nanti gajinya lebih besar, tempatnya lebih deket dari kos-an (cuma 10 menit jalan kaki), dan tantangan baru karena job desk nya sama sekali beda sama kerjaannya dia yang sekarang.
"Masalahnya Deb, gue lebih nyaman di sini. Gue suka kerjaan gue. Kerjaan gue tuh asik. Apalagi temen-temen disini juga baik sama gue."
Asik?
Disini gue bertanya-tanya dimana asiknya? Sepanjang hari yang gue lihat dia mondar-mandir lantai satu sampe lantai tiga cuma buat ngecek persediaan barang, penjualan barang, dan gak jarang dia kena omel boss gara-gara sesuatu yang bukan salahnya. Gue yang nonton dia kerja aja capek, gimana dia yang ngejalanin?
Dalam hidup gue, nggak akan pernah terlintas untuk punya profesi kayak dia. Berhitung, menjual, negosiasi, ketelitian, lembur..... it's not my thing. Yang gue mau adalah gue bisa berekspresi semau gue... dan kebanyakan profesi yang berkaitan dengan otak kanan cocok sama gue.
"Kerjaan kamu dimana asiknya sih? Aku aja puyeng liatin kamu kerja..." Gue nyablak.
"Lho asik tauuu. Justru aku yang pusing liatin kamu kerja. Bikin box ini itu... gunting-gunting...motong-motong..desain ini desain itu..." jawabnya ngebela diri.
"Kerjaan aku nggak mikir, kerjaan kamu mikir. Hahaha..."
"Bisa-bisanya kamu bikin macem-macem itu tanpa mikir!" terus dia ketawa.
Bagi dia kerjaan gue itu super nggak banget. Bagi gue kerjaan dia itu.... ya perlu banget gue bahas lagi?
Tapi sebenarnya yang bikin gue mikir adalah kata-kata dia yang sebelumnya: Karena gue nyaman.
Kenyamanan kayaknya kunci dari segala hal bagi gue. Percuma lo kerja di tempat yang wow bagi orang lain, tapi lo nggak menikmati semenit pun waktu lo disana. Gue pernah sekali waktu liat post temen di Path: Rejeki nggak hanya datang dari besarnya gaji aja, tapi juga lokasi kantor, temen-temen kantor, nyamannya kantor, dan banyaknya makanan di sana. Seorang temen gue yang juga lulusan desain grafis akhirnya sekarang kerja jadi marketing promotion. Lho sayang banget ilmu desainnya? Ternyata dia lebih enjoy sama kerjaannya yang sekarang. Sesimpel itu.
Seorang cowok tulen nggak bisa dipaksa untuk pakai rok tutu polkadot pink. Ya, kita bisa paksa dia pakai rok itu tapi apa dia bakal pake itu selama 2 minggu? Sebulan? Setahun? Lo bisa paksa dia, tapi itu bukan nature nya. Bukan minatnya. Bukan kesukaannya. Otot-otot kekar di kakinya pasti nggak nyaman dibalik rok tutu pink. Nggak nyaman. Ngeri ya ngebayanginnya?
Sesimpel itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)